Hari-hari belakangan ini saya beberapa kali mendapat berita duka. Seorang kawan dalam usia yang produktif dengan karier cemerlang mendadak dipanggil yang Maha Kuasa. Seorang kawan dosen muda, Dalam usianya yang 27 tahun tanpa diagnosa yang jelas dari dokter juga menemui ajalnya setelah dirawat kurang dari seminggu. Dan beberapa orang yang saya kenal dengan sakit yang tidak parah tiba-tiba saja mendahului kita. Terkadang logika kita yang linier tersentak, semuda itukah? secepat itukah? penyakit apakah?. Sungguh kematian adalah rahasia Tuhan.
Dalam filsafat barat yang menjadi titik tolak ilmu pengetahuan dan peradaban kita hari ini, Manusia adalah sentrum alam semesta (Antroposentris). Pandangan ini berasal dari mitologi yunani yang percaya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengatasi seluruh masalahnya dan menafikan peran Tuhan. Dengan pemahaman ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat, sebagian manusia pun menjadi semakin yakin bahwa manusialah penguasa jagad raya ini. Tapi ternyata Pandangan tersebut sangat rapuh dan tak berkutik didepan fenomena kematian. Manusia ternyata begitu tidak berdaya melawan takdir Allah. Allah telah berfirman, Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (QS.Ali Imran :185 ). Jangankan menghindarinya, menundanya barang sedetikpun manusia tak berdaya. Firman Allah: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS .Al Jumuah : 62).
Kematian adalah suatu kepastian, seperti halnya pergantian siang dan malam.” Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup . Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”(QS.Ali Imran:27). Sehingga kematian tidaklah pantas untuk ditakuti. Adanya kematian bukanlah akhir dari kehidupan , namun menjadi pintu untuk kehidupan selanjutnya bagi yang meninggal dan nasihat bagi kita yang masih hidup . Nasihat agar lebih menghargai kehidupan. Untuk menyadari bahwa suatu saat yang entah kapan kita akan dipanggil mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama hidup yang diberi peran dan tanggung jawab untuk mengabdi kepada Allah dan menjadi khalifah dimuka bumi.Allah berfirman: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S.Adz Dzariyaat:56) . Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.AlBaqarah:30)
Kematian mengingatkan kita yang masih memiliki sisa umur untuk tidak terus berada dalam kerugian dengan mengerjakan amal shalih dan menasehati dalam kebenaran dan untuk tetap sabar .Allah berfirman : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS.Al ‘Ashr:1-3) . Kematian bagi kaum beriman tidaklah pantas untuk ditakutkan, yang pantas ditakutkan adalah bekal menghadapi hari pembalasan. Hari dimana Kebajikan dan keburukan yang sekecil apapun akan mendapat ganjaran Allah:
Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka[1596], Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.(QS. Al-Zalzalah :6-8). Pada ayat yang lain Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS.Al Hasyr :18)
Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bisa terus beramal shalih dan beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukannya agar kita bisa mendapatkan kenikmatan yang besar di akhirat nanti yaitu berjumpa dengan Allah sesuai firman-Nya : Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”( QS. Al-Kahfi: 110). Dan semoga jiwa kita kembali kehadapan Allah dengan tenang, hati yang puas dan dirihoi-Nya sebagaimana firmannya : Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,masuklah ke dalam syurga-Ku.(QS Al Fajr.27-30)
Kebahagian adalah dambaan setiap orang. Upaya mencapai kebahagian melahirkan pandangan hidup yang berbeda pada setiap orang.
Sunday, July 24, 2011
Friday, June 24, 2011
Mubarak dan Candu Kekuasaan
Kekuasaan Mubarak akhirnya jatuh setelah didemo oleh rakyatnya selama berhari- hari dan merenggut banyak korban. Dia tak punya pilihan, meskipun keinginan untuk tetap berkuasa masih kuat, Namun tekanan yang besar memaksanya untuk mundur. Berkuasa selama 30 tahun membuatnya ketagihan, seperti seorang pencandu narkotika yang ketergantungan, meski tahu akan berdampak buruk pada dirinya bahkan bisa menyebabkan kematian namun dia tak sanggup menghentikannya. Mubarak semestinya berterima kasih pada rakyatnya, seperti halnya keluarga yang melepaskannya dari zona nyaman yang sangat berbahaya.
Kondisi masa depan Mesir pasca jatuhnya Mubarak sangat tidak menentu. Penderitaan rakyat, kemunduran ekonomi, konflik horizontal di masyarakat adalah hal yang pasti terjadi akibat ambisi mempertahankan kekuasaan yang berlebih dimana rakyat selalu menjadi korban. Tak semua Negara mampu melewati turbulensi politik dalam transisi kekuasaan, Bahkan beberapa Negara hilang dalam peta dunia akibat tak mampu melewati turbulensi politik seperti itu,
Ketagihan berkuasa suatu rezim memiliki dampak negative yang sangat besar, baik bagi sang tirani terlebih bagi rakyatnya. Sebegitu buruknya kah kekuasaan sehingga dianalogikan dengan narkotika? Narkotika sesungguhnya sangat di butuhkan di saat yang tepat, saat operasi misalnya. Dengan dosis yang tepat narkotika sangat bermanfaat,seperti juga kekuasaan hanya bermanfaat jika dengan aturan dan batas waktu yang tepat. Berkuasa melintasi beberapa generasi jelas over dosis, kadaluarsa dan sudah tentu berbahaya bagi masyarakat.
Dalam pandangan islam, kekuasaan adalah alat untuk memakmurkan bumi, sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi menebarkan rahmat. Kekuasan ( amanah) bukan untuk di syukuri tetapi seharusnya orang yang mendapatkannya harus berduka ibarat mendapat musibah sehingga layak mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kekuasaan membutuhkan tanggung jawab yang berat, dan juga harus di pertanggung jawabkan di hari kemudian. Dalam al-Qur’an surah As-shaad ayat 26, Allah swt telah memperingatkan, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
Namun, banyak orang mengira bahwa berkuasa itu adalah nikmat, sehingga harus di rebut dengan berbagai cara dengan mengorbankan harta benda, harga diri, keluarga, ketentraman sosial bahkan nyawa manusia. Fenomena merebut kekuasaan dengan berbagai cara bukan lagi sesuatu yang aneh di Indonesia. Tontonan perebutan kekuasaan di pilkada selalu menghiasi headline media massa . Kerusakan yang ditimbulkannya begitu banyak, dan perbaikan yang akan dilakukannya kelak jika berkuasa belum tentu besar. Bahkan calon penguasa yang ambisius cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi ketika berkuasa. Penyebabnya tiada lain adalah asumsi bahwa kekuasaan adalah suatu kenikmatan dan kesempatan yang harus direbut, tanpa melihat beratnya tanggung jawab yang harus dipikulnya.
Manusia dari masa ke masa memang banyak yang tergoda dengan silaunya zona nyaman kekuasaan. Jika merebutnya saja banyak orang yang tergila- gila sampai harus mengorbankan seluruh hidupnya, apatah lagi oleh orang yang telah mengecapnya. Ibarat orang kehausan meminum air laut, rasa hausnya tidak akan hilang, malahan akan bertambah. Pemimpin yang terjebak dalam zona ini cenderung menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, seluruh energinya di habiskan untuk hal tersebut sehingga berbagai persoalan rakyat yang menjadi tugas pokoknya menjadi terlupakan. Penyalahgunaan wewenang pejabat,Korupsi, Penggelapan pajak adalah bagian dari tidak terkontrolnya negara dan lemahnya tanggung jawab pemegang kendali kekuasaan.
Mubarak hanyalah satu contoh dari sekian penguasa yang sulit menghentikan dirinya dari kecanduan berkuasa. Meski rakyat yang di pimpinnya sudah tak sanggup lagi, pertanda gagalnya pereintahan yang dipimpinya namun jika tak dipaksa dia tidak akan berhenti. Ini pertanda bahwa tanggung jawab yang menjadi tujuan utama kekuasaan memang telah diabaikan. Jadi untuk apa berkuasa jika rakyat sudah tak merasakan manfaatnya, bukankah tanggung jawab kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat.
Peralihan kekuasaan di Indonesia
Dalam sejarah Indonesia, Kita telah menyaksikan efek candu kekuasaan pada dua rezim yang berakhir buruk , Sukarno dan Suharto. Tak seorang pun yang meragukan kemampuan dan tanggung jawab Sukarno untuk memegang tampuk kekuasaan diawal pemerintahannya, namun ternyata beliau juga tak mampu melepaskan diri dari candu kekuasaan sehingga lahirlah ide demokrasi terpimpin dan Tap MPR tentang presiden seumur hidup. Ketidakmampuan melepaskan diri dari zona nyaman kekuasaan berakhir buruk untuk dirinya dan juga seluruh bangsa Indonesia.Munculnya berbagai pemberontakan di berbagai wilayah Indonesia sebenarnya pertanda adanya signal bahwa kekuasaan sudah berjalan tidak sehat. Namun Sukarno tak mampu melepaskan diri dari zona nyaman kekuasaan. Peralihan kekuasaan pun terjadi dengan abnormal dan rakyat menanggung akibat yang tidak kecil. Turbulensi peralihan kekuasaan yang harus di bayar mahal oleh negeri ini, termasuk keterlambatan untuk sejajar dengan bangsa lain di dunia.
Demikian juga halnya dengan Orde baru, Suharto yang menerima amanat penderitaan rakyat Indonesia di saat jatuhnya sukarno, juga tak mampu belajar dari sejarah. Kendali kekuasaan yang di amanahkan padanya juga membuatnya silau, Beliau tak sanggup berhenti disaat yang tepat, bahkan berusaha mempertahankan kekuasaannya selama 32 tahun dan berakhir buruk setelah dipaksa turun oleh mahasiswa ditahun 1998. Sekali lagi, rakyat menanggung akibat yang tidak kecil. Kerugian materil dan immaterial, bahkan ratusan nyawa rakyat harus menjadi tumbal. Bahkan efek transisi kekuasaan pasca Suharto masih belum stabil sampai hari ini.
Para pemegang kendali kekuasaan seharusnya belajar dari sosok Muhammad Hatta sebagai seorang tokoh yang mampu mengendalikan diri dari nafsu berkuasa. Belau tidak silau dengan sona nyaman kekuasaan, menyadari bahwa kekuasaan adalah tanggung jawab yang berat,Beliau tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Bahkan pada saat beliau tak mampu lagi berbuat banyak terhadap rakyat sesuai yang di pahaminya akibat persoalan- persoalan politik waktu itu, beliau dengan segala kearifannya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden.
Peristiwa jatuhnya Mubarak, seperti juga jatuhnya tirani- tirani sebelumnya seharusnya menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia. Baik bagi kita yang belum berkuasa terlebih yang sudah memegang kekuasaan. Kekuasaan bukanlah kenikmatan atau kesempatan untuk memperkaya diri tetapi adalah tanggung jawab yang besar untuk kepentingan rakyat. Jika tak sanggup menjawab persoalan – persoalan yang dihadapi rakyat sebaiknnya mempersilahkan orang lain yang mungkin lebih mampu. Berhentilah berpikir memperpanjang kekuasaan dengan menggunakan segala cara karena itu pertanda silau kekuasaan mulai membutakan anda. Rakyat pasti akan bersatu padu untuk menggulingkan kekuasaan, jika sudah tidak lagi memberikan makna bagi mereka meski dengan resiko yang besar. Dua sejarah penggulingan kekuasaan di Indonesia dan jatuhnya Mubarak cukuplah jadi contoh, atau Bangsa ini akan terjatuh di lubang yang sama berkali- kali.
pernah dimuat di kolom opini koran tribun timur tanggal 19 februari 2011
Kondisi masa depan Mesir pasca jatuhnya Mubarak sangat tidak menentu. Penderitaan rakyat, kemunduran ekonomi, konflik horizontal di masyarakat adalah hal yang pasti terjadi akibat ambisi mempertahankan kekuasaan yang berlebih dimana rakyat selalu menjadi korban. Tak semua Negara mampu melewati turbulensi politik dalam transisi kekuasaan, Bahkan beberapa Negara hilang dalam peta dunia akibat tak mampu melewati turbulensi politik seperti itu,
Ketagihan berkuasa suatu rezim memiliki dampak negative yang sangat besar, baik bagi sang tirani terlebih bagi rakyatnya. Sebegitu buruknya kah kekuasaan sehingga dianalogikan dengan narkotika? Narkotika sesungguhnya sangat di butuhkan di saat yang tepat, saat operasi misalnya. Dengan dosis yang tepat narkotika sangat bermanfaat,seperti juga kekuasaan hanya bermanfaat jika dengan aturan dan batas waktu yang tepat. Berkuasa melintasi beberapa generasi jelas over dosis, kadaluarsa dan sudah tentu berbahaya bagi masyarakat.
Dalam pandangan islam, kekuasaan adalah alat untuk memakmurkan bumi, sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi menebarkan rahmat. Kekuasan ( amanah) bukan untuk di syukuri tetapi seharusnya orang yang mendapatkannya harus berduka ibarat mendapat musibah sehingga layak mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kekuasaan membutuhkan tanggung jawab yang berat, dan juga harus di pertanggung jawabkan di hari kemudian. Dalam al-Qur’an surah As-shaad ayat 26, Allah swt telah memperingatkan, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
Namun, banyak orang mengira bahwa berkuasa itu adalah nikmat, sehingga harus di rebut dengan berbagai cara dengan mengorbankan harta benda, harga diri, keluarga, ketentraman sosial bahkan nyawa manusia. Fenomena merebut kekuasaan dengan berbagai cara bukan lagi sesuatu yang aneh di Indonesia. Tontonan perebutan kekuasaan di pilkada selalu menghiasi headline media massa . Kerusakan yang ditimbulkannya begitu banyak, dan perbaikan yang akan dilakukannya kelak jika berkuasa belum tentu besar. Bahkan calon penguasa yang ambisius cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi ketika berkuasa. Penyebabnya tiada lain adalah asumsi bahwa kekuasaan adalah suatu kenikmatan dan kesempatan yang harus direbut, tanpa melihat beratnya tanggung jawab yang harus dipikulnya.
Manusia dari masa ke masa memang banyak yang tergoda dengan silaunya zona nyaman kekuasaan. Jika merebutnya saja banyak orang yang tergila- gila sampai harus mengorbankan seluruh hidupnya, apatah lagi oleh orang yang telah mengecapnya. Ibarat orang kehausan meminum air laut, rasa hausnya tidak akan hilang, malahan akan bertambah. Pemimpin yang terjebak dalam zona ini cenderung menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, seluruh energinya di habiskan untuk hal tersebut sehingga berbagai persoalan rakyat yang menjadi tugas pokoknya menjadi terlupakan. Penyalahgunaan wewenang pejabat,Korupsi, Penggelapan pajak adalah bagian dari tidak terkontrolnya negara dan lemahnya tanggung jawab pemegang kendali kekuasaan.
Mubarak hanyalah satu contoh dari sekian penguasa yang sulit menghentikan dirinya dari kecanduan berkuasa. Meski rakyat yang di pimpinnya sudah tak sanggup lagi, pertanda gagalnya pereintahan yang dipimpinya namun jika tak dipaksa dia tidak akan berhenti. Ini pertanda bahwa tanggung jawab yang menjadi tujuan utama kekuasaan memang telah diabaikan. Jadi untuk apa berkuasa jika rakyat sudah tak merasakan manfaatnya, bukankah tanggung jawab kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat.
Peralihan kekuasaan di Indonesia
Dalam sejarah Indonesia, Kita telah menyaksikan efek candu kekuasaan pada dua rezim yang berakhir buruk , Sukarno dan Suharto. Tak seorang pun yang meragukan kemampuan dan tanggung jawab Sukarno untuk memegang tampuk kekuasaan diawal pemerintahannya, namun ternyata beliau juga tak mampu melepaskan diri dari candu kekuasaan sehingga lahirlah ide demokrasi terpimpin dan Tap MPR tentang presiden seumur hidup. Ketidakmampuan melepaskan diri dari zona nyaman kekuasaan berakhir buruk untuk dirinya dan juga seluruh bangsa Indonesia.Munculnya berbagai pemberontakan di berbagai wilayah Indonesia sebenarnya pertanda adanya signal bahwa kekuasaan sudah berjalan tidak sehat. Namun Sukarno tak mampu melepaskan diri dari zona nyaman kekuasaan. Peralihan kekuasaan pun terjadi dengan abnormal dan rakyat menanggung akibat yang tidak kecil. Turbulensi peralihan kekuasaan yang harus di bayar mahal oleh negeri ini, termasuk keterlambatan untuk sejajar dengan bangsa lain di dunia.
Demikian juga halnya dengan Orde baru, Suharto yang menerima amanat penderitaan rakyat Indonesia di saat jatuhnya sukarno, juga tak mampu belajar dari sejarah. Kendali kekuasaan yang di amanahkan padanya juga membuatnya silau, Beliau tak sanggup berhenti disaat yang tepat, bahkan berusaha mempertahankan kekuasaannya selama 32 tahun dan berakhir buruk setelah dipaksa turun oleh mahasiswa ditahun 1998. Sekali lagi, rakyat menanggung akibat yang tidak kecil. Kerugian materil dan immaterial, bahkan ratusan nyawa rakyat harus menjadi tumbal. Bahkan efek transisi kekuasaan pasca Suharto masih belum stabil sampai hari ini.
Para pemegang kendali kekuasaan seharusnya belajar dari sosok Muhammad Hatta sebagai seorang tokoh yang mampu mengendalikan diri dari nafsu berkuasa. Belau tidak silau dengan sona nyaman kekuasaan, menyadari bahwa kekuasaan adalah tanggung jawab yang berat,Beliau tidak menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Bahkan pada saat beliau tak mampu lagi berbuat banyak terhadap rakyat sesuai yang di pahaminya akibat persoalan- persoalan politik waktu itu, beliau dengan segala kearifannya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden.
Peristiwa jatuhnya Mubarak, seperti juga jatuhnya tirani- tirani sebelumnya seharusnya menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia. Baik bagi kita yang belum berkuasa terlebih yang sudah memegang kekuasaan. Kekuasaan bukanlah kenikmatan atau kesempatan untuk memperkaya diri tetapi adalah tanggung jawab yang besar untuk kepentingan rakyat. Jika tak sanggup menjawab persoalan – persoalan yang dihadapi rakyat sebaiknnya mempersilahkan orang lain yang mungkin lebih mampu. Berhentilah berpikir memperpanjang kekuasaan dengan menggunakan segala cara karena itu pertanda silau kekuasaan mulai membutakan anda. Rakyat pasti akan bersatu padu untuk menggulingkan kekuasaan, jika sudah tidak lagi memberikan makna bagi mereka meski dengan resiko yang besar. Dua sejarah penggulingan kekuasaan di Indonesia dan jatuhnya Mubarak cukuplah jadi contoh, atau Bangsa ini akan terjatuh di lubang yang sama berkali- kali.
pernah dimuat di kolom opini koran tribun timur tanggal 19 februari 2011
Saturday, February 12, 2011
Puasa,Wahana Membangun Karakter Bangsa
Hakekat Puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus, tapi adalah menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu , sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja. Tetapi puasa itu adalah menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata kasar. Oleh karena itu, bila ada yang mencacimu atau menjahilimu, maka katakanlah kepadanya, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa! Sesungguhnya aku sedang berpuasa'," (HR.Muslim)
Orang yang dikendalikan oleh hawa nafsunya akan berbuat sesukanya tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Orang tersebut akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya, dan akan terdorong kejalan kebatilan yang menyesatkan. Orang yang tak mampu mengendalikan hawa nafsunya akan menjadi manusia yang kehilangan akal sehat, budi pekerti dan akhlak yang baik. Manusia yang kehilangan karakter.
Upaya mengendalikan hawa nafsu bukanlah hal yang mudah. Pada saat rasulullah beserta para sahabat kembali dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin, Rasulullah SAW bersabda: “Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ? " Baginda berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi).
Namun demikian, jika kita bersungguh –sungguh dalam perjuangan mengendalikan hawa nafsu maka Allah SWT akan memberikan petunjuk. Firman Allah SWT ::“Mereka yang berjuang untuk melawan hawa nafsu karena hendak menempuh jalan Kami, sesungguhnya Kami akan tunjuki jalan Kami. Sesungguhnya Allah itu beserta dengan orang yang buat baik.” ((Surah Al-Ankabut : 69)
Latihan pengendalian hawa nafsu secara optimal adalah berpuasa. Puasa bukan hanya menahan diri dari yang haram, saat berpuasa bahkan kita diharuskan untuk mengendalikan diri dari yang halal. Jika seseorang yang berpuasa tidak mampu menahan hawa nafsunya, puasanya tidak akan memberi manfaat apa-apa. Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Beberapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja dari puasanya'," (HR Ibnu Majah)
Kemampuan untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu adalah modal besar dalam kehidupan. Pengendalian diri seperti rem kehidupan, kemampuan untuk menarik diri dari derasnya arus keinginan duniawi yang berlebihan, yang menjerumuskan kita kedalam jurang kehancuran. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu akan berbuah budi pekerti yang luhur, moral yang baik, Akhlak yang baik. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu akan melahirkan manusia-manusia yang berkarakter unggul.
Karakter Bangsa
Bangsa adalah kumpulan dari tata nilai. Karakter dan mentalitas rakyat adalah pondasi yang kuat dari tata nilai tersebut. Bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi adalah bangsa yang memiliki karakter unggul. Keruntuhan sebuah bangsa ditandai dengan runtuhnya karakter dan mentalitas masyarakatnya.
Bangsa yang memiliki karakter unggul adalah bangsa yang merupakan masyarakat yang baik (good society). Hal tersebut tercermin dari moral dan budi pekerti yang baik, semangat dan tekad yang kuat, optimis, rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala individu –individunya adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral berperilaku baik pula.
Berbagai masalah yang dialami bangsa Indonesia hari ini, adalah cerminan keterpurukan mentalitas dan karakter bangsa. Ada berbagai kasus yang mengingkari akal sehat dan hati nurani kita. Bagaimana korupsi yang merajalela (baca : membudaya) dan tak mampu ditangani pemerintah. Hukum yang selalu berpihak pada orang kaya dan menafikan rakyat kecil. Negara yang tak sanggup memberi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang layak pada warganya, kemiskinan yang mengiris rasa kemanusiaan. Semua itu adalah akibat dari karakter bangsa yang terpuruk.
Demikian juga dengan berbagai kerentanan social, kriminalitas, kecurangan, money politic dan konflik pemilukada,, tawuran antar warga, semua itu menjadi bukti bahwa bangsa ini kehilangan karakter. Bangsa yang kehilangan akal sehat, budi pekerti dan akhlak yang baik. Bangsa yang rakyat dan pemimpinnya hanya memikirkan dirinya sendiri. Rakyat dan pemimpin yang tak mampu menahan diri dan mengendalikan hawa nafsunya.
Dalam al-Qur’an surah As-shaad ayat 26, Allah swt telah memperingatkan, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
Puasa sebagai pendidikan karakter
Puasa adalah pendidikan karakter bagi ummat islam. Berpuasa selama bulan ramadhan akan mengembalikan manusia kepada fitrahnya, seperti manusia yang baru lahir. Manusia yang cenderung kepada kebenaran, Manusia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi serta berbudi pekerti yang luhur. Manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Orang yang melaksanakan puasa, memahami dan menghayati maknanya akan melahirkan manusia berakhlak tinggi, Manusia yang berkarakter unggul. Orang tersebut akan meraih keberuntungan, kesuksesan dunia dan akhirat.
Ibadah puasa sebagai sebuah pendidikan karakter adalah upaya pembangunan yang bertata nilai. Pembangunan yang berorientasi pada manusia sebagai subyek pembangunan (human oriented development). Pembangunan yang akan melahirkan manusia yang berkarakter unggul . Manusia – manusia yang akan membentuk masyarakat yang baik (good society).
Ibadah puasa dan ibadah ramadhan lainnya adalah laboratorium pendidikan karakter ummat islam yang relevan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Jika hakikat dan makna puasa bisa diwujudkan pada mayoritas ummat, tentu menjadi sumbangan yang besar bagi perbaikan karakter bangsa Indonesia.
Ibadah puasa sebagai wahana perbaikan karakter bangsa berarti merintis jalan untuk tercapainya suatu tata pemerintahan yang baik, atau good governance. Perbaikan karakter bangsa berarti mengatasi berbagai persoalan bangsa secara substansial. Upaya mengurai benang kusut dan meretas jalan bagi kemakmuran dan kemajuan bangsa. Upaya membangun peradaban yang tinggi.
Sungguh amat banyak manfaat, hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari ibadah puasa. Pantas kiranya bila suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan seandainya umat manusia tahu dan rasakan apa saja keistimewaan Ramadhan, mereka akan memohon kepada Allah agar seluruh bulan menjadi Ramadhan.
Semoga ibadah puasa yang kita lakukan akan memberi manfaat secara personal dan maupun terhadap kehidupan sosial. Terutama dalam membentuk pribadi yang berkarakter unggul, masyarakat yang baik, pemerintahan yang baik untuk peradaban Indonesia yang tinggi. Amin,
Wallahu A’lam
Pernah di muat di tribun timur, agustus 2010
Orang yang dikendalikan oleh hawa nafsunya akan berbuat sesukanya tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Orang tersebut akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya, dan akan terdorong kejalan kebatilan yang menyesatkan. Orang yang tak mampu mengendalikan hawa nafsunya akan menjadi manusia yang kehilangan akal sehat, budi pekerti dan akhlak yang baik. Manusia yang kehilangan karakter.
Upaya mengendalikan hawa nafsu bukanlah hal yang mudah. Pada saat rasulullah beserta para sahabat kembali dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin, Rasulullah SAW bersabda: “Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ? " Baginda berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi).
Namun demikian, jika kita bersungguh –sungguh dalam perjuangan mengendalikan hawa nafsu maka Allah SWT akan memberikan petunjuk. Firman Allah SWT ::“Mereka yang berjuang untuk melawan hawa nafsu karena hendak menempuh jalan Kami, sesungguhnya Kami akan tunjuki jalan Kami. Sesungguhnya Allah itu beserta dengan orang yang buat baik.” ((Surah Al-Ankabut : 69)
Latihan pengendalian hawa nafsu secara optimal adalah berpuasa. Puasa bukan hanya menahan diri dari yang haram, saat berpuasa bahkan kita diharuskan untuk mengendalikan diri dari yang halal. Jika seseorang yang berpuasa tidak mampu menahan hawa nafsunya, puasanya tidak akan memberi manfaat apa-apa. Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Beberapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja dari puasanya'," (HR Ibnu Majah)
Kemampuan untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu adalah modal besar dalam kehidupan. Pengendalian diri seperti rem kehidupan, kemampuan untuk menarik diri dari derasnya arus keinginan duniawi yang berlebihan, yang menjerumuskan kita kedalam jurang kehancuran. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu akan berbuah budi pekerti yang luhur, moral yang baik, Akhlak yang baik. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu akan melahirkan manusia-manusia yang berkarakter unggul.
Karakter Bangsa
Bangsa adalah kumpulan dari tata nilai. Karakter dan mentalitas rakyat adalah pondasi yang kuat dari tata nilai tersebut. Bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi adalah bangsa yang memiliki karakter unggul. Keruntuhan sebuah bangsa ditandai dengan runtuhnya karakter dan mentalitas masyarakatnya.
Bangsa yang memiliki karakter unggul adalah bangsa yang merupakan masyarakat yang baik (good society). Hal tersebut tercermin dari moral dan budi pekerti yang baik, semangat dan tekad yang kuat, optimis, rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala individu –individunya adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral berperilaku baik pula.
Berbagai masalah yang dialami bangsa Indonesia hari ini, adalah cerminan keterpurukan mentalitas dan karakter bangsa. Ada berbagai kasus yang mengingkari akal sehat dan hati nurani kita. Bagaimana korupsi yang merajalela (baca : membudaya) dan tak mampu ditangani pemerintah. Hukum yang selalu berpihak pada orang kaya dan menafikan rakyat kecil. Negara yang tak sanggup memberi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang layak pada warganya, kemiskinan yang mengiris rasa kemanusiaan. Semua itu adalah akibat dari karakter bangsa yang terpuruk.
Demikian juga dengan berbagai kerentanan social, kriminalitas, kecurangan, money politic dan konflik pemilukada,, tawuran antar warga, semua itu menjadi bukti bahwa bangsa ini kehilangan karakter. Bangsa yang kehilangan akal sehat, budi pekerti dan akhlak yang baik. Bangsa yang rakyat dan pemimpinnya hanya memikirkan dirinya sendiri. Rakyat dan pemimpin yang tak mampu menahan diri dan mengendalikan hawa nafsunya.
Dalam al-Qur’an surah As-shaad ayat 26, Allah swt telah memperingatkan, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.
Puasa sebagai pendidikan karakter
Puasa adalah pendidikan karakter bagi ummat islam. Berpuasa selama bulan ramadhan akan mengembalikan manusia kepada fitrahnya, seperti manusia yang baru lahir. Manusia yang cenderung kepada kebenaran, Manusia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi serta berbudi pekerti yang luhur. Manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Orang yang melaksanakan puasa, memahami dan menghayati maknanya akan melahirkan manusia berakhlak tinggi, Manusia yang berkarakter unggul. Orang tersebut akan meraih keberuntungan, kesuksesan dunia dan akhirat.
Ibadah puasa sebagai sebuah pendidikan karakter adalah upaya pembangunan yang bertata nilai. Pembangunan yang berorientasi pada manusia sebagai subyek pembangunan (human oriented development). Pembangunan yang akan melahirkan manusia yang berkarakter unggul . Manusia – manusia yang akan membentuk masyarakat yang baik (good society).
Ibadah puasa dan ibadah ramadhan lainnya adalah laboratorium pendidikan karakter ummat islam yang relevan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Jika hakikat dan makna puasa bisa diwujudkan pada mayoritas ummat, tentu menjadi sumbangan yang besar bagi perbaikan karakter bangsa Indonesia.
Ibadah puasa sebagai wahana perbaikan karakter bangsa berarti merintis jalan untuk tercapainya suatu tata pemerintahan yang baik, atau good governance. Perbaikan karakter bangsa berarti mengatasi berbagai persoalan bangsa secara substansial. Upaya mengurai benang kusut dan meretas jalan bagi kemakmuran dan kemajuan bangsa. Upaya membangun peradaban yang tinggi.
Sungguh amat banyak manfaat, hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari ibadah puasa. Pantas kiranya bila suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan seandainya umat manusia tahu dan rasakan apa saja keistimewaan Ramadhan, mereka akan memohon kepada Allah agar seluruh bulan menjadi Ramadhan.
Semoga ibadah puasa yang kita lakukan akan memberi manfaat secara personal dan maupun terhadap kehidupan sosial. Terutama dalam membentuk pribadi yang berkarakter unggul, masyarakat yang baik, pemerintahan yang baik untuk peradaban Indonesia yang tinggi. Amin,
Wallahu A’lam
Pernah di muat di tribun timur, agustus 2010
Subscribe to:
Comments (Atom)